Produksi : EON Productions, Danjaq LLC, MGM, 2012
So, ‘Casino Royale’, adalah sebuah awal. Sebuah reboot dari proses panjang sepak terjang agen rahasia rekaan penulis Ian Fleming, ber-code name 007. James Bond, yang disesuaikan dengan trend sekarang. Katanya, realistis. Sampai bukan lagi flamboyan playboy dengan tampang rupawan aristokrat Inggris, James Bond ditransformasi ke sosok gahar Daniel Craig yang sama sekali tak punya faktor looks. Bahkan jas rapi-nya pun berganti menjadi hawaiian shirt. And mostly, no gadgets, Q, dan Moneypenny. Even trademark-nya menenggak Martini, ‘Shaken, Not Stirred’ dibalasnya dengan ‘Do I Look Like I Give A Damn?’ But, if you really did your homework, mostly if you’re a real fan, endingnya memang sangat menjelaskan. Bahwa bukan rombakan total, reboot ini adalah lebih ke sebuah proses. Karakter M wanita, played by Dame Judi Dench, juga dipertahankan dari instalmen-instalmen sebelumnya. Hasilnya? Tak hanya sukses mengenalkan Bond ke generasi baru penontonnya, dengan bandrol-bandrol ‘The Best Bond Ever’, bagi fans-nya, proses itu menyisakan rasa penasaran ke sekuel berikutnya, which is, became very acceptable.
Then ‘Quantum Of Solace’ comes along, dimana proses metamorfosis dalam reboot itu berlanjut. Turut me-reboot beberapa faktor-faktor penting dalam Bond universe, termasuk tampilan sahabat setianya, agen CIA Felix Leiter (played by Jeffrey Wright), ‘Quantum Of Solace’ meninggalkan penontonnya dengan kemunculan Bond’s patriotic side, yang juga menyatu sebagai bangunan karakternya. Bukan lagi Bond penuh dendam serba hantam kromo seperti dalam ‘Casino Royale’, meski masih jadi jagoan yang bisa berdarah-darah, loyalitasnya sebagai agen M-16 muncul dalam sebuah adegan klimaks yang simpel, tapi luarbiasa solid.
And here’s ‘Skyfall’, instalmen Bond ke-3 versi Craig dan ke-23 dari EON Productions (minus ‘Casino Royale’ (1967) dan ‘Never Say Never Again’ (1984)), yang sempat lama tertunda akibat problem finansial dibalik kebangkrutan MGM di tahun 2010. Skrip-nya ditangani oleh Neal Purvis dan Robert Wade, duo co-writer dari dua film sebelumnya (juga menulis skrip ‘The World’s Not Enough’ dan ‘Die Another Day’) serta John Logan (penulis kaliber Oscar yang sudah menghasilkan ‘Gladiator’, ‘The Aviator’, hingga ‘Hugo’ dan the upcoming ‘Noah’) yang masuk menggantikan Peter Morgan, serta kursi sutradara diserahkan ke pilihan sejak awal, Sam Mendes.
Keikutsertaan Mendes mau tak mau mendatangkan banyak spekulasi karena meski punya awards quality, genre James Bond ada di luar zona nyaman-nya. Mendes yang selama ini lebih banyak berkiprah di film-film drama dengan pendalaman karakter seperti ‘American Beauty’, ‘Road To Perdition’ dan ‘Revolutionary Road’, sempat dituding sebagai aji mumpung pihak produser untuk sekali ini membidik Oscar, apalagi ada Roger Deakins, sinematografer berkelas Oscar yang juga kerap bekerjasama dengan Mendes, sebagai DoP-nya. But surprisingly, berdasar inspirasi dari film favoritnya, ‘The Dark Knight’, seperti diakuinya sendiri, Mendes yang kabarnya ikut ‘mengarahkan’ Logan untuk menulis skripnya berdasarkan inspirasi itu, mengerjakan PR-nya dengan sangat baik, bahkan dengan segudang referensi ke film-film Bond klasik, ketimbang merubah tone franchise ini sesuai gayanya.
M-16 kucar-kacir atas kebocoran hard disk berisi rahasia negara nama-nama agen NATO undercover dalam berbagai organisasi teroris. James Bond (Daniel Craig) dan agen Eve (Naomie Harris) pun ditugaskan memburu seorang mercenary Perancis, Patrice (Ola Rapace) ke Istanbul, Turki. Kekacauan dalam pengejaran itu membuat M (Judi Dench) harus mengambil keputusan telak untuk mengorbankan Bond. Namun kegagalan itu tetap membuat M dipaksa pensiun oleh Kepala Intelijen dan Keamanan Garreth Mallory (Ralph Fiennes), bahkan akan disidang oleh pemerintah. Bond yang ternyata selamat lantas kembali ke London untuk melanjutkan misinya, melacak keberadaan Patrice yang buron ke Shanghai. Disini, Bond berkenalan dengan Severine (Bérénice Lim Marlohe), gadis dengan masa lalu misterius yang akhirnya membawanya ke otak penyerangan ke M-16 di sebuah pulau terpencil. Raoul Silva (Javier Bardem), gembong teroris hi-tech yang ternyata menyimpan sebuah dendam lama dan sudah menyiapkan mindgames buat penyelidikan Bond. Berpacu dengan waktu, Bond yang sedang berada bukan dalam kondisi terbaiknya harus sekali lagi menyelamatkan semua targetnya. Kalau perlu, memancing Silva ke masa lalunya yang penuh trauma di Skyfall, dataran Skotlandia.
Yup, meski tetap punya unsur-unsur keluarga, kita tak lagi disuguhi konflik antar tetangga usil ala Mendes biasanya, namun ia justru membawa pengembangan karakter Bond ke wilayah baru yang tetap setia di koridor metamorfosis yang sudah dimulai sejak ‘Casino Royale’ itu. All we’ve got is not only ‘The Dark Knight’ template, tapi lebih ke kombinasinya dengan ‘The Dark Knight Rises’, baik dalam detil-detil plot serta adegan, konflik, karakterisasi dan interaksinya bahkan sampai ikut mempengaruhi scoring Thomas Newman bak seorang Hans Zimmer. Bahkan karakter Silva dibangun dari kombinasi dari tiga villain franchise Batman ; Bane, Joker dan Two Face bersama pendalaman karakter Bond yang sangat Bruce Wayne hingga clue-clue ke pembukaan twist-nya. Somehow, might be a bit too inspired.
So, was that ‘ a bit too inspired’ mean bad? I assured you not. Karena Mendes, Logan serta Purvis dan Wade hanya menggunakan kemiripan itu untuk menuangkan semua aspek yang tetap tak melupakan elemen-elemen James Bond ke dalamnya. Call it a perfect creativity, buat menyesuaikannya dengan trend yang ada, dan menambahkan twist serta emosi into the whole Bond universe. Dan jangan khawatir, meski kurang dipercaya bisa membesut adegan aksi, ada Alexander Witt di second unit director, yang juga duduk di kursi yang sama dalam ‘Casino Royale’. Malah, seiring dengan pergerakan proses metamorfosisnya, dari surprise re-introducing karakter-karakter klasiknya termasuk kemunculan Q muda (Ben Whishaw), kendaraan (Bond’s Aston Martin) serta mocking taktis ke gadget-gadget-nya, elemen-elemen fantasi ala Bond, mulai penekanan sosok ‘die hard superspy’ atau ‘playboy who sees sex only as pleasure’ hingga deadly creatures yang diselipkan muncul semakin mendominasi disini. Mendes also brought some justice bagi karakter Judi Dench serta Ralph Fiennes yang tanpa tersia-sia mendapat porsi gede atas kegagalannya dulu menjadi kandidat pemeran Bond. Ada pula aktor Inggris senior Albert Finney yang makin memberi warna ke dalam plot-nya, dan teasing sparks yang sangat menonjol antara Craig dengan Harris. Even Bérénice Marlohe yang muncul singkat, sebagaimana nasib second Bond girls, mampu mencuri perhatian dengan sosok super-atraktifnya. Sama seperti ‘The Dark Knight Rises’, semua pengembangan ini dibesut Mendes dengan pendekatan lebih logis dibalik template original yang tetap fantastis. Bukan realistis.
Kekuatan lain dalam instalmen ini pun bukan hanya terletak disana. Bintang utama lainnya adalah sinematografi Roger Deakins yang meracik beragam teknik komposisi fotografi-nya dengan luarbiasa. Seakan terus-menerus dibawa ke lukisan panoramik yang cantik dari awal sampai ke akhir, shot-shot ke adegan aksi-nya juga menyelipkan aspek detil tak kalah rapi bersama intensitas pengarahan Mendes dan Witt yang dipenuhi thrill-thrill penuh emosi. Bagi sebagian orang, eksekusi adegan-adegan aksi pasca opening scene yang wajib hadir dengan eksplosif pada tiap instalmennya mungkin sedikit bisa mengecewakan, namun di lain sisi ini justru jadi kelebihan Mendes dalam pendalaman karakter-karakternya, tanpa juga sama sekali mengorbankan aksi-aksian hi-tech ala Bond yang disini tampil lebih klasik tapi taktis. Dan pastinya, jangan lupakan theme song-nya. Sebagai unsur wajib di franchise-nya, tetap mengusung resep klasik kombinasi genre musik yang sedang trend dengan komposisi yang sangat James Bond, Adele’s ‘Skyfall’, is absolutely poisonous.
So yes, sebagai instalmen ketiga Bond Craig yang lebih masuk ke trend penonton sekarang, ‘Skyfall’ sudah menunaikan tugasnya dengan sangat, sangat baik. Keseimbangan pendekatan baru dengan template klasiknya sangat pas, pendalaman plot-nya muncul dengan emosi yang solid , referensi-referensi dan surprising twist-nya juara, and above all, Mendes sudah berhasil melanjutkan benang merah kontinuitas metamorfosis super-spy ini dengan sempurna di perayaan tepat 50 tahun umur franchise-nya. He might even touch some more, but sometimes, old ways are the best. Dan Mendes sudah menunjukkan itu. Sebuah penghormatan luarbiasa terhadap karakter ini. Bond. James Bond. (dan)
danieldokter.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar